Sunday, July 17, 2011

KUNCI ILMU TENAGA DALAM


Tenaga dalam merupakan salah satu bentuk ‘khawariqul ‘adah’ (kemampuan luar biasa), adakalanya kemampuan ini berasal dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang dianugrahkan kepada wali-wali-Nya. Dan ada kalanya berasal dari syaiton yang kemudian sering dianggap sebagai anugrah ilahi, sebagaimana yang diperlihatkan oleh wali-wali syaiton tersebut.

Menurut para ulama, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh, antara kedua ‘khawariqul ‘adah’ (kemampuan luar biasa) dapat dibedakan dengan dua tinjauan.

Yang Pertama adalah melalui keadaan orang yang mendapatkannya. Apabila orang yang mendapatkannya adalah orang yang bertakwa, dari kalangan ahli tauhid, memiliki Ilmu dalam Syariat Islam yang shohih, ikhlas dalam beribadah, tidak mengamalkan amalan-amalan bid’ah yaitu amalan ibadah yang tidak mencontoh tuntunan Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan termasuk pelaku maksiat, maka apabila ia mendapatkan ‘khawariqul ‘adah’ berarti itu merupakan anugrah Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Sebaliknya apabila yang mendapatkannya bukan dari kalangan ahli tauhid, seperti halnya orang-orang yang suka melakukan perbuatan syirik, misalnya memohon berkah melalui kuburan orang-orang yang dikeramatkan, mengadakan acara ‘haul’ (merayakan hari ulang tahun kematian) dan lainnya, maka yang diperolehnya adalah ‘khawariqul ‘adah’ (kemampuan luar biasa) yang berasal dari Syaithan.

Begitu juga apabila yang memperoleh adalah yang suka melakukan perbuatan bid’ah, misalnya membaca dzikir-dzikir yang tidak disyari’atkan. Seperti dengan membatasi jumlah-jumlah, bentuk-bentuk, suara-suara, atau cara-cara tertentu yang tidak ada contohnya dalam syari’at. Atau orang yang suka berbuat maksiat. Misalnya tidak menjaga batas-batas pergaulan antara pria dan wanita, tidak memelihara jenggot, meminum yang memabukkan, memakan harta riba, tidak menutup aurat dan lain-lain. Apabila demikian keadaan orangnya, maka ‘khawariqul ‘adah yang diperoleh adalah berasal dari Syaithan.

Yang Kedua adalah melalui sebab diperolehnya ‘khawariqul ‘adah’. Khawariqul ‘adah yang berasal dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala hanya bisa diperoleh dengan ketaatan, keimanan dan ketakwaan. Selain itu Islam tidak mengajarkan seorang muslim untuk beribadah untuk tujuan mendapatkan ‘khawariqul ‘adah’ (kemampuan luar biasa).

Justru itulah yang membedakan antara yang berasal dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan yang berasal dari Syaithan. Yaitu bahwa ‘khawariqul ‘adah’ yang berasal dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak bisa dipelajari apalagi dibakukan menjadi semacam ‘ilmu kedigdayaan’, sedangkan yang berasal dari Syaithan bisa dipelajari dan bisa dibakukan menjadi suatu ilmu. Sekalipun secara zhahir dilakukan dengan membaca ayat atau dzikir. Sebagaimana difirmankan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara suami dan istrinya” (QS: Al-Baqarah: 102)
Ayat ini menunjukkan, bahwa ‘khawariqul ‘adah’ yang dapat dipelajari adalah sihir (berasal dari Syaithan), sedangkan yang berasal dari anugrah Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidaklah dapat dipelajari sebagaimana sihir.

Pada dasarnya setiap manusia bahkan seluruh makhluk hidup, memiliki yang namanya Tenaga Inti / Tenaga Dalam / Energi Haq. Akan tetapi tidak semua orang tahu akan keberadaan Tenaga Dalam pada dirinya. Tenaga ini akan muncul manakala seseorang dalam keadaan kritikal, puncak kelelahan fisik, tersepit, atau menghadapi keadaan yang mengancam dirinya, saat itu keinginan untuk mempertahankan hidup membuatnya dapat melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan pada saat normal.

Sebagai contoh ketika seseorang diambang kritikal, misal sedang dikejar anjing liar, garang lagi. Seketika itu ia boleh berlari cepat melebihi kecepatan larinya pada kondisi biasa, bahkan orang tersebut boleh melompat keseberang sungai yang dilihat dari lebarnya terasa tidak mungkin boleh dilompati pada saat biasa. Ini adalah suatu contoh penggunaan tenaga cadangannya yang disebut Tenaga Dalam tadi.

Atas dasar hal itulah maka Tenaga ini disebut juga Tenaga Cadangan. Yaitu tenaga yang tidak biasa atau jarang digunakan dan akan muncul secara tiba-tiba tanpa dikendalikan. Karena tenaga ini belum diketahui secara pasti apalagi diukur batas maksimalnya maka tenaga ini disebut juga Tenaga Ghoib. Tenaga ini muncul dari dalam diri setiap makhluk hidup yang bersifat supranatural maka disebut juga Tenaga Dalam. Dan tenaga ini terdapat disetiap diri makhluk hidup baik manusia, hewan ataupun tumbuhan sebagai fitrah dari karunia Tuhan maka tenaga ini disebut juga Energi Haq. Energi Kebenaran; energi yang diberikan dari Tuhan Yang Maha Haq (benar).

Mesti dalam setiap diri makhluk hidup khususnya manusia terdapat tenaga tersebut, tapi tidak semua orang bisa memanfaatkan Tenaga Dalamnya secara optimal. Hal ini adakalanya disebabkan oleh ketidaktahuannya akan keberadaan Tenaga Dalam didalam dirinya, atau juga karena Tenaga Dalamnya itu belum bangkit / dibangkitkan. Karena memang untuk dapat mendayagunakan tenaga tersebut diperlukan cara-cara khusus dan belum boleh dimanfaatkan kalau belum dibangkitkan. Ia laksana seekor naga yang sedang mengeram didalam diri setiap manusia. Tidak bergerak jika tidak disentuh.

Ada banyak cara untuk membangunkan dan membangkitkan Tenaga Dalam. Ada yang menggunakan sistem pernafasan irama (olah nafas), ada yang dengan gerakan-gerakan terarah yang digabungkan dengan pernafasan. Ada pula yang menggunakan metode riyadhoh (tirakat) dengan mengamalkan puasa, bertapa / meditasi, pembacaan Asma-Asma tertentu / dzikir / mantera / aji-aji. Apa pun cara yang dipergunakan adalah baik, tergantung kepada kemampuan dan ketekunan orang yang mempelajarinya.

No comments:

Post a Comment